Bismillah..
Diperut kereta listrik dalam perjalanan Depok-Jakarta, siang itu sekitar
13.30 wib. Muncul sekelompok pengamen cilik dengan segala atributnya.
Sembari mengucap salam, dentam musik mereka membangunkan sebagian besar
penumpang yang sedang asyik tertidur. Lalu mengalirlah lagu-lagu lawas
bernada gembira. Serasa membawa nuansa angin segar pada siang yang cukup
suntuk, gerah, dan menyebalkan.
“Oo…Carol..”
“Ayem, So In lop wit yu..!”
“Ayem, So In lop wit yu..!”
Gitar, botol Galon Aqua kosong, kecrekkan, dan lengkingan suara bocah 9
tahun-nan itu terdengar riang. Dengan bahasa inggris yang belepotan,
mereka terlihat begitu percaya diri. Tanpa sadar menarik senyum dan
hentakkan kaki sebagian penumpang KRL yang ada.
Seakan-akan tanpa lelah, bocah-bocah itu membawakan 4 sampai 5 lagu.
Hingga pada bait terakhir nyaris usai, seorang Mahasiswa yang sejak awal
begitu menikmati sajian mereka berteriak, “Lagi-Lagi!!”
Ditimpali teriakan teman-temannya yang berkata
“We want more!
We want more!”.
We want more!”.
Sedikit gambaran tentang kehidupan dikota Jakarta yang sepertinya tidak
pernah tertidur.
***
Agan n Sista saudaraku..
Terkadang hidup ini begitu terasa teramat berat. Jam kerja yang padat,
kepenatan yang menumpuk, amanah yang nggak selesai-selesai, dan berbagai
problematika kehidupan yang lain. Seolah hidup ini terasa begitu
tertekan.
Tapi lihatlah wajah anak-anak pengamen tadi, mereka begitu riang
gembira, dan mereka tetap terus menghibur walaupun berbagai problematika
hinggap didalam benaknya.
Mereka bernyanyi, dan itu mereka lakukan demi beberapa uang recehan
untuk mempertahankan hidupnya. Mungkin untuk makan, mungkin untuk bayar
sekolah, atau mungkin untuk setoran kepada ‘atasan’nya. Dan semuanya
harus mereka lakukan tanpa keluhan, apalagi duka.
Nah sekarang marilah kita tengok diri kita..
Kita yang mungkin telah bekerja dengan sangat nyaman diruangan ber-AC,
dan paling tidak sudah berpenghasilan tetap setiap bulannya, serta masih
banyak kelebihan-kelebihan lainnya yang sudah kita dapatkan.
..Terkadang masih juga mengeluh dan meratap.
“Gaji kecil apanya yang cukup!”
atau,
“Makanan itu-itu aja gimana mau gemuk!”
atau,
“SDM sedikit gimana mau berda’wah”
dan berjuta keluhan lainnya yang secara tidak sadar keluar mengalir dari
mulut kita.
Padahal..
Kalau Agan dan Sista mau membandingkan kehidupan kita dengan
pengamen-pengamen cilik tadi, kita ini jauh lebih beruntung.




